Senin, 25 November 2019

apa itu obesitas ?


Kegemukan atau obesitas adalah penumpukkan lemak yang tidak normal atau berlebihan di dalam tubuh. Kondisi ini jika dibiarkan terus menerus dapat memengaruhi kesehatan penderitanya. Ya, kondisi ini tidak hanya berdampak pada penampilan fisik penderitanya, tetapi juga meningkatkan risiko dalam kesehatan seperti penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi.Obesitas adalah salah satu masalah kesehatan terbesar di seluruh dunia. Selain dapat menyebabkan masalah kesehatan secara fisik, kondisi ini juga dapat menyebabkan masalah psikologis, seperti stres dan depresi.Obesitas dan berat badan berlebih (overweight) merupakan dua konsep yang berbeda. Overweight adalah kondisi di mana terdapat kenaikan berat badan berlebih. Namun demikian, kenaikan berat badan tidak hanya disebabkan oleh lemak berlebih, tetapi juga bisa disebabkan massa otot atau cairan dalam tubuh. Kondisi-kondisi tersebut dapat memberikan dampak berbahaya pada kesehatan.




   
➮Seberapa umum kondisi ini?
Obesitas adalah salah satu kondisi paling umum yang dapat dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa. Seseorang berisiko tinggi mengalami kondisi ini jika tidak menjaga pola makan dan melakukan olahraga yang cukup.Kegemukan biasanya diderita oleh orang-orang dengan pekerjaan administratif atau kantoran yang cenderung menerapkan gaya hidup sedentari, alias malas gerak. Anda dapat menjaga diri Anda dari kondisi ini dengan mengurangi faktor-faktor risiko yang ada. Jadi, silakan berkonsultasi dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.







➮Gejala Timbulnya Obesitas 
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki). Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit. Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.
Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk. 

Faktor-faktor risiko
Apa yang meningkatkan risiko saya untuk obesitas (kegemukan)?Berikut beberapa faktor yang bisa jadi penyebab kenaikan berat badan dan obesitas: 
    1. Genetik , alias keturunan adalah salah satu komponen terbesar yang bisa memicu obesitas. Anak dari orangtua yang obesitas jauh lebih berisiko mengalami obesitas dibanding anak yang orangtuanya memiliki berat badan ideal. Dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of Clinical Investigastion diketahui bahwa orang yang membawa gen FTO biasanya cenderung banyak makan makanan berlemak dan tinggi gula. Selain itu orang dengan gen tersebut juga biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa kenyang. Nah, hal tersebutlah yang menyebabkan orang dengan gen FTO lebih mungkin untuk mengalami obesitas. Meski begitu bukan berarti obesitas sepenuhnya ditentukan oleh genentik. Pasalnya, apa yang Anda konsumsi juga memiliki efek besar pada gen yang dapat memicu obesitas. Ya, jika Anda memiliki gen obesitas dan Anda memiliki kebiasaan hidup yang tidak sehat, maka hal tersebut justru akan meningkatkan risiko Anda berkali-kali lipat untuk mengalami obesitas. Sebaliknya, jika Anda memiliki gen obesitas, tapi Anda secara teratur menerapkan pola hidup sehat dengan memerhatikan asupan makanan serta rajin olahraga, maka risiko Anda terkena obesitas pun akan menurun.
    2. Junk food, Junk food adalah jenis makanan yang tinggi kandungan gula, lemak, garam, dan minyak. Kombinasi inilah, ditambah dengan wangi makanan dan berbagai paduan rasa lainnya, yang membuat makanan junk food terasa nikmat sehingga bikin ketagihan. Tanpa sadar, orang yang sering makan junk food menumpuk banyak kalori dan lemak di tubuhnya. Nah, hal inilah yang menyebabkan Anda mengalami kenaikan berat badan yang pada akhirnya memicu obesitas. Jika sudah obesitas, maka Anda berisiko terkena penyakit kronis lainnya.
    3. Obat-obatan tertentuBanyak obat-obatan dengan/tanpa resep dokter dapat menyebabkan penambahan berat badan sebagai efek samping. Misalnya antidepresan yang sudah lama dikaitkan dengan kenaikan berat badan secara perlahan-lahan. Beberapa obat-obatan lain yang bisa memicu kenaikan berat badan adalah obat diabetes dan antipsikotik yang sering digunakan untuk meredakan masalah mental. Obat-obatan ini mengubah fungsi tubuh dan otak Anda, menyebabkan meningkatkan nafsu makan dan berkurangnya tingkat metabolisme Anda. Hal tersebutlah yang memicu kenaikan berat badan.
    4. Stress, Siapa sangka, stres nyatanya juga bisa jadi penyebab obesitas. Ya, stres sangat mungkin menyebabkan obesitas. Pasalnya pada saat Anda mengalami stres, Anda akan lebih mudah untuk lebih banyak makan, terutama makanan manis, guna sekadar meredakan stres dan memperbaiki suasana hati. Padahal tanpa disadari, konsumsi makanan di saat-saat seperti itu justru akan membuat Anda mengonsumsi makanan ebih banyak, yang pada akhirnya akan menumpuk kalori, gula, serta lemak di dalam tubuh. Nah, hal inilah yang menyebabkan Anda mengalami kenaikan berat badan.
    5. Malas gerak, Dengan adanya televisi, komputer, video game, mesin cuci, ponsel pintar, dan perangkat kenyamanan modern lainnya, hidup kebanyakan orang memang jadi lebih santai. Sayangnya, hal tersebut justru membuat banyak orang minim melakukan aktivitas fisik. Padahal kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan perlambatan metabolisme dalam tubuh. Ya, semakin sedikit Anda bergerak, maka semakin pula kalori yang Anda bakar. Akibatnya, kalori akan lebih banyak menumpuk di dalam tubuh. Bahkan tak hanya soal kalori saja. Aktivitas fisik yang minum juga memengaruhi kinerja hormon insulin dalam tubuh. Jika kadar insulin dalam tubuh tidak stabil, maka erat kaitannya dengan penambahan berat badan.
    6. tidak cukup tidur, Penelitian telah menemukan bahwa jika Anda tidak cukup tidur, Anda berisiko dua kali lipat untuk mengalami obesitas. Risiko ini berlaku untuk orang dewasa dan anak-anak. Hal ini berdasarkan penelitian dilakukan di Warwick Medical School di University of Warwick. Para ahli dalam penelitian tersebut meninjau bukti di lebih dari 28.000 anak dan 15.000 orang dewasa. Hasil penelitian jelas menunjukkan bahwa kurang tidur secara signifikan meningkatkan risiko obesitas pada  kedua kelompok. Kurang tidur dapat menyebabkan obesitas melalui peningkatan nafsu makan akibat dari perubahan hormonal. Jika Anda tidak cukup tidur, Anda menghasilkan Ghrelin, hormon yang merangsang nafsu makan. Kurang tidur juga mengakibatkan tubuh Anda memproduksi lebih sedikit Leptin, hormon yang menekan nafsu makan. Jika Anda tidak mengidap faktor-faktor risiko tersebut bukan berarti Anda tidak dapat terjangkit obesitas. Tanda-tanda tersebut hanya referensi saja, jadi akan lebih baik jika Anda berkonsultasi pada dokter untuk informasi lebih lanju
    ➮Cara penanggulangan obesitas 
    Menurut perhimpunan Studi Obesitas Indonesia atau Indonesian Society for the Study of Obesity, penanganan kegemukan dilaksanakan berpedoman pada lima prinsip yaitu:








    1.      Motivasi
             Jika seseorang menganggap gemuk bukan hal yang merisaukan, tentu program penurunan berat badan tidak akan berhasil. Sebagai contoh ada seorang pembawa acara yang berbadan gemuk dan senang akan kondisi tubuhnya. Beberapa kali diwawancarai, yang bersangkutan dengan semangat mengatakan bahwa ia tidak akan menurunkan berat badannya. Tetapi apa yang terjadi? Saat ini terlihat sang presenter kurus akibat mengalami penyakit tertentu.
             Sebelum memulai program penurunan berat badan, pertama-tama yang harus diubah adalah pola pikir dari orang gemuk. Motivasi menjadi kurus harus kuat tertanam di dalam dirinya, bukan sekedar ikut-ikutan karena misalnya baru saja membaca tulisan ini. Motivasi ini bis diperkuat dengan bergabung dalam kelompok mereka yang mempunyai program sama, berdiskusi dengan pakarnya, dan lain sebagainya. Biasanya dalam kelompok, para anggota bisa saling mengingatkan dan saling berkompetisi. Begitu pula dengan adanya pakar dalam kelompok tersebut, usaha yang dilakukan menjadi sistematik dan terarah. Adalah lebih baik jika penurunan berat badan dilakukan pada saat belum mengalami kondisi penyakit tertentu, bukan akibat dari penyakit yang diderita.
    2.   Pengaturan Diet
            Makin gemuk seseorang maka makin mudah untuk merasa lapar. Ini karena pengaruh zat/hormon yang terdapat dalam sel-sel lemak. Maka usaha pembatasan diet harus dilakukan sesegera mungkin. Jika yang bersangkutan menganggap bahwa usaha pembatasan diet bisa dilakukan kapan saja (tetapi tidak saat ini), tentu usahanya menjadi lebih sulit. Karena itu, pada saat ini juga, tetapkanlah bahwa saya harus membatasi diet saya, sebelum menjadi lebih gemuk lagi dengan risiko lebih susah lagi untuk berdiet. Carilah makanan yang rendah kalori. Mulailah hari kita hanya dengan mengonsumsi setengah dari porsi makan Anda sehari-hari. Semua porsi yang kita makan dikurangi separoh. Itu saja. Jangan lupa pula membatasi makanan manis, asin, dan lemak. Tetapi harus diingat, jangan sampai kebablasan mengatasi kegemukan. Anjuran WHO, jumlah penurunan massa tubuh yang baik dan aman adalah sekitar setengah hingga 1 kg per minggu.
    3.   Pola Hidup Sehat
             Selain pengaturan diet, biasakanlah menimbang badan Anda untuk mengevaluasi usaha Anda. Hal ini kelihatan sepele namun memberi efek yang tidak kalah besarnya dengan program diet itu sendiri. Begitu pula dengan berolahraga, lakukan dengan baik dan benar.
    4.   Terapi Kedokteran
             Meskipun banyak obat-obatan yang ditawarkan agar bisa menjadi langsing, namun sebaiknya sebelum menggunakan obat-obatan, berkonsultasi dulu dengan dokter. Tanyakanlah bagaimana cara kerja, efek samping, atau bahaya jika obat tersebut secara berlebihan terdapat dalam tubuh. Obat yang cocok pada seseorang belum tentu cocok dan sesuai pada orang lain. Lagi pula, program penurunan berat badan tidak bisa hanya bergantung pada obat-obatan.
    5.   Pembedahan
                 Pembedahan berupa pengambilan lemak perut (omentum) dilakukan jika seseorang telah memiliki BMI sama atau lebih dari 40. Selain itu bisa juga dilakukan pada BMI kurang dari 35 jikalau telah memiliki penyakit yang bisa mengancam jiwa akibat berat tubuh berlebihan.
     
    daftar putaka
    Arul.2009.Obesitas.(Online),http://adul2008.wordpress.com/2009/04/11/obesitas/diakses 26 November 2019.
    Burhan.Hariyati.2011.makalah obesitas. Online,(http://hariatyburhan.blogspot.com/2011/11/makalah-obesitas.html, diakses 26 November 2019.
     Swari, Risky Candra. 2016. Apa itu obesitas (kegemukan)? , https://hellosehat.com/penyakit/obesitas-kegemukan/. diakses 26 November 2019.
    Nurzakiah, Nurzakiah , Endang Achadi, Ratu Ayu Sartika. 2010. Faktor Risiko Obesitas pada Orang Dewasa Urban dan Rural. http://journal.fkm.ui.ac.id/kesmas/article/view/15.  diakses pada 26 November 2019.
     Kurdanti. Weni, 2015. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas pada remaja. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, Vol. 11, No. 4.

    6 komentar: